Malam indah berakhir pilu

Malam indah berakhir pilu

Malam ini, tapi bukan hari ini, lebih tepatnya setahun yang lalu.

Akhirnya malam ini pun tiba, malam yang aku nantikan sejak setahun yang lalu, entah mengapa aku begitu merindukan malam ini, mungkinkah aku memiliki kecenderungan menyakiti diri sendiri?

atau mungkin karena malam ini aku berani menuliskan semuanya disini, ya tulisan ini sudah lama bermain-main di dalam otak saya dan tak bisa saya hilangkan. semua alur cerita, penyesalan, kegagalan dan masih banyak lagi terus bermain- main di pikiran.

Disisi lain cerita sempat tertuang dalam puluhan paragraf dan menjadi dua kisah cerpen, yang mungkin akan ku tuangkan dalam tulisan seperti ini tapi entah kapan, tak ada yang tahu.

mungkin harus menunggu setahun lagi agar keberaniaan itu muncul, tapi itu mungkin. bisa saja setelah ini akan meluncur semua cerita itu.

hanya pikiran dan hati ini yang tahu

Masih mengenai malam ini, 34 tahun yang lalu sepasang suami istri sedang menantikan kelahiran seorang bayi, setidaknya itu yang mereka katakan. 34 tahun yang lalu, malam ini menjadi malam penantian yang diselimuti kebahagiaan, ketakutan, kecemasan dan masih banyak lagi hanya mereka yang tahu.

Mungkin saya terlalu banyak bertele-tele

Malam ini, setahun yang lalu ternyata saya gagal menjadi sutradara yang handal, semua skenario telah saya pikirkan matang-matang dan semua properti telah saya siapkan. namun semua buyar ketika sang aktris memiliki skenario sendiri, dan dia berhasil menyutradarai skenario itu dengan gemilang.

Malam ini setahun yang lalu saya menembus dinginnya malam sepanjang kurang lebih 45 kilometer bersama dengan motor tua saya yang berinisial petir. petir ini selalu setia menemani saya kemanapun, kapanpun, dan dalam cuaca apapun.

Masih jelas diingatan setelan jacket ala-ala pendaki gunung, sepatu tracking topi dan tumbler yang selalu tergantung di motor, setelan ini adalah setelan seperti biasanya ketika saya mendatangi kota ini. lebih tepanya datang kerumahnya.

Ehhhh tapi kali ini ada yang berbeda, di dalam salah satu saku jaket terdapat sebuah kotak dengan ukuran 5×5 cm yang isinya adalah, ahhh tak mungkin ku katakan, karena tidak akan menjadi surprise dan kalian tidak akan membaca sampai habis tulisan saya ini.

Malam ini, setahun yang lalu, dekorasi dalam rumah itu berubah. ruang belakang yang biasanya untuk makan, telah menjadi tempat untuk menonton tivi, dan kedatangan saya disambut dengan keteganganya sedang menonton tivi.

Skenario langsung saya mainkan, saya hanya duduk diam tanpa sekatapun, dan diapun begitu. hampir kurang lebih 1 jam kami bagaikan orang yang tak saling mengenal, bahkan untuk saling menatap pun tidak.

Akhirnya saya memberanikan memecah keheningan, tapi benar kata orang, awal yang baik akan berakhir dengan baik.

Mungkin saya terlalu keras saat membuka percakapan, mungkin saya terlalu keras menekan dirinya, mungkin saya terlalu memaksakan skenario yang ada di pikiran saya.

Dan akhirnya dia berontak, dia berusaha keluar dari tekanan yang saya buat. dan kegagalan saya adalah tidak menyadari semua itu, saya terlambat mengantisipasi luapan emosi yang sedang mengalir dari dalam dirinya.

Dan dengan cepat luapan emosi itu menjadi kalimat “Putus jo torang dua” Kata-kata itu langsung menembus hati yang paling dalam. Diam, termenung, tubuh bergetar, dan airmata mulai menetes. setidaknya itu yang saya alami saat itu.

Setelah kata itu keluar saya tersadar bahwa apa yang saya rencanakan telah gagal total, saya sempat mencoba memperbaiki keadaan dengan segala cara yang saya bisa. namun keputusannya sudah matang.

Itulah dia, dia adalah tipe orang yang teguh pada pendirian, setidaknya itu yang saya pahami dari dirinya.

Akhirnya malam ini, setahun yang lalu saya kembali menembus dinginnya malam sepanjang 45 kilometer, dengan air mata yang perlahan menetes membasahi buff yang saya pakai.

Kurang lebih setengah perjalanan, saya baru teringat ada sesuatu di dalam saku jaket saya, saya berhenti dan mengambil benda itu. boks dengan ukuran 5×5 centimeter, saya melihatnya namun takut untuk membukanya setelah apa yang saya alami beberapa jam yang lalu. tanpa terasa airmata masih terus mengalir.

Sempat terpikir untuk kembali malam itu dan memberikan boks ini kepadanya, siapa tahu bisa memperbaiki keadaan yang kami berdua alami.

Dan ini kegagalan yang saya sesali sampai saat ini…

Saya terlalu takut untuk kembali dan memberikan boks itu padanya, padahal kedatangan saya malam ini tujuannya adalah untuk memberikan boks itu padanya agar kami bisa lebih berkomitmen kedepannya.

Saya terlalu takut dia akan semakin ilfil pada saya.

Saya menggenggam erat boks itu dan dengan sekali ayunan tangan, boks itu telah melayang entah kemana.

Dan ini adalah tindakan yang saya sesali sampai saat ini

mungkin saya terlalu cepat menyerah terhadap kondisi yang kami alami, sementara bukti dari keseriusan saya telah saya buang entah kemana. entah dengan apa lagi saya bisa membuktikan keseriusan saya.

Masih dengan airmata yang berlinang, petir membawa saya pulang, ingin sekali malam itu menabrakan diri, namun entah mengapa malam itu hampir tidak pernah bertemu dengan kendaraan lain.

Dalam perjalanan masih terpikir semua apa yang baru saja saya alami

Malam ini, setahun yang lalu saya tertidur dalam tangis yang tak berkesudahan.

Besoknya dengan cepat saya memanaskan mesin si petir, dan menuju ke tempat semalam saat saya membuang boks itu. hampir satu jam memcoba mencari-cari namun boks itu telah hilang entah kemana, mungkin ini adalah pertanda semua akan berakhir.

Malam ini setahun yang lalu, semuanya berakhir, dan esoknya adalah hari ulang tahun saya.

boks ukuran 5×5 cetimeter berisi sebuah cincin tanda keseriusan saya, yang ingin kuberikan padanya. namun semuanya tidak sesuai rencana.

Seri dua cerpen lagi akan saya ceritakan tapi entah kapan, saya tidak tahu. mungkin besok atau dilain waktu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RSS
Follow by Email