Cerpen : Alam yang mempertemukan kita [Part 2]

Cerpen : Alam yang mempertemukan kita [Part 2]

Suasana malam ini tidak terlalu dingin karena saya sengaja membiarkan kompor yang berada diantara kami tetap menyala.

“nama saya Randi” sambil mengulurkan tangan kearahnya

“saya Putri” sambil menjabat tangan saya

beberapa saat setelah kami berkenalan kami terdian tanpa mengeluarkan sepatah katapun

“putri sendirian? atau masih ada teman yang akan nyusul” tanyaku memecah keheningan diantara kami

“saya sendirian” jawab putri

“terima kasih atas kopinya”

“btw bisa tidak saya masang tenda di depan tendamu Ran?” sambil berdiri dan membongkar ranselnya untuk mengeluarkan tenda

“ohhhhh bisa!!! itu masih luas loakasinya,,” sambil menyenter lokasi untuk putri dirikan tenda

“mari saya bantu dirikan tenda” sambungku

“Makasih yach Ran” jawab Putri

tenda putri sudah selesai terpasang, terlihat Putri sedang mengluarkan peralatan untuk memasak

“put, dari pada kamu mau masak, dan kalaupun tidak keberatan mending makan sama saya aja, tadi saya sudah memasak dan kayaknya ini cukup buat kita berdua”

Baca juga : Akan tiba saatnya

saya menawarkan makan malam kepada Putri sambil mengeluarkan menu makan malam yang telah saya masak dari dalam tenda.

putri terdiam sesaat akan tawaranku

“gini aja, siniin perbekalan kamu. kita barter aja, anggap aja saya udah masakin perbekalan kamu. Gimana?!!!” sambung saya

putri mengangguk tanda meniyakan perkataan saya sambil menyodorkan 1 paket perbekalannya.

akhirnya malam itu kami makan malam berdua.

dibawah cahaya bulan yang hampir purnama, ditemani suara binatang malam dan suhu yang lumayan dingin seakan membuat makan malam ini terasa romantis, walaupun saya baru mengenal Putri dan sebaliknya.

Tidak banyak percakapan saat kami makan malam di puncak ini hanya sesekali terlontar pujian putri atas masakanku

setelah makan putri memohon pamit untuk tidur duluan

lewat tengah malam saya terbangun, langsung melihat jam di tangan saya ternyata pukul 04.30. seperti biasanya jika saya camp di Mata Angin pasti saya akan bangun subuh untuk menunggu datanggnya matahari dari balik Gunung Klabat. memang Gunung mahawu menjadi tempat Favorit saya karena saya bisa melihat matahari terbit dari balik gunung dan tenggelam di horisontal laut.

saya bersiap siap untuk keluar dari tenda sambil mempersiapkan peralatan untuk membuat kopi,

segelas kopi menemani saya menanti mentari menampakkan wajahnya, tidak berapa lama saya merasa seperti ada seseorang yang sedang menghampiri saya, dan benar ternyata saat saya menoleh ke belakang, Putri sedang berjalan ke arah saya.

“suka menunggu matahari terbit” tanya putri sambil duduk di samping saya

saya hanya mengangguk dan melempar senyum kecil kepadanya

“mau kopi” saya menawarkannya kopi

“jika diijinkan” jawab Putri

saya langsung mengambil gelas dan menuangkan kopi dari sebuah botol minum tahan panas yang telah saya buat sebelumnya

“hati-hati panas” kata saya sambil menyodorkan segelas kopi padanya

“terima kasih” jawab putri sambil mengambil kopi yang saya berikan

terlihat Putri menggenggam gelas itu dengan kedua tanggannya, mungkin karena suhu menjelang pagi sangat dingin sehingga panasnya kopi tidak begitu terasa.

Baca juga : Metanoia

“Ran kenapa kamu naik gunung sendirian?” tanya Putri tanpa menoleh ke arah saya

“memang sangat berbahaya naik gunung sendirian” jawab saya

“namun saya lebih senang sendirian, karena bagi saya maik gunung karena saya mau mendapat ketenangan. Kalau saya mau keramaian saya ngga akan ke gunung, saya akan ke Mall”

Trus “kalo putri sendiri mengapa sendirian”? saya balas bertanya pada putri

Dia menatap saya sambil tersenyum

“ saya sebenarnya tidak terbiasa naik gunung sendirian,  ini pun baru pertama kalinya saya sendirian. Dulu saya kalau naik gunung atau berkegiatan di alam pasti berdua dengan teman saya”

“Trus kenapa temannya tidak ikut?” Tanya saya

“Teman saya tidak ikut, tapi dia selalu menemani saya” jawab putri

Saya menatapnya dengan bingung

“teman saya sudah meninggal 6 bulan yang lalu” sambung Putri

“upppssss maaf” saya memotong pembicaraan putri “dia meninggal karena sakit kanker hati yang telah di derita sejak masih SMA, dan yang membuat saya merasa bersalah adalah saya tidak pernah tau kalau dia menderita penyakit itu. Dia berhasil menutupinya dariku. Besok tepat setahun kami berdua terakhir kali ke gunung ini. Sebelum dia meninggal dia berpesan pada saya bahwa saya harus naik lagi ke gunung ini dan harus membuka tenda di mata agin, saya tidak tau apa maksudnya tapi yang pasti saya harus melakukan apa permintaan sahabat saya ini.”


Bersambung : Alam yang mempertemukan kita [Part 3]

Leave a Reply

%d bloggers like this: