Cerpen : Alam yang mempertemukan kita [Part 3]

Cerpen : Alam yang mempertemukan kita [Part 3]

Kemudian Putri terdiam sesaat sambil memandang kosong ke arah gunung Klabat

Matahari mulai menunjukkan wajahnya dibalik gunung Klabat dan kami berdua masih membisu sambil menikmati keindahan matahari terbit. Tak terasa kebisuan antara kami berdua memakan waktu cukup lama sehingga matahari telah menampakkan bentuk seutuhnya dan suhu sudah mulai terasa hangat.

Saya terdiam sejenak memandang wajah Putri

“kenapa memandang saya begitu Ran” tanya Putri dengan sedikit merasa takut

“ehhhh maaf Put, sepertinya kita pernah ketemu tapi dimana yach?” jawabku

Putri pun langsung memandang wajah saya, tatapan kami bertemu beberapa saat dan kemuadian kami sama sama tersenyum

“ladies first”  sambil Putri menirukan gaya saya waktu di supermarket

“ohhhh iya…… wahhhh kota manado ternyata kecil yach” saya berkata sambil tertawa terbahak bahak

“Ran, masak yuk…. lapar nich” ajak Putri

“ayuk” jawabku

Kami langsung berjalan ke arah tenda dan mempersiapkan peralatan masak kami.

Baca juga : Kontroversi Cinta

“Ran siniin perbekalan pagi kamu biar saya yang masak, kan semalam saya makan masakan kamu. Sekarang gantian saya yang masak. Ntar kamu cobain masakan saya” teriak Putri dari depan tendanya

“ok” jawab saya sambil menyerahkan 1 paket perbekalan untuk sarapan

Sementara putri memasak saya memasang Flysheet untuk melindungi tenda kami berdua dari panas matahari. Memang di mata angin suhunya dingin tapi jika matahari sudah tinggi sangat terasa sengatan mataharinya.

Selesai saya memasang flysheet untuk melindungi kami dari panas matahari saya kembali untuk membantu Putri memasak, tapi Putri melarang saya

“udah kamu duduk aja dan tungguin masakan saya” celoteh Putri

Sambil menunggu Putri memasak ternyata saya tertidur, tiba tiba terdengar suara teriakan Putri,

Ran,,,, Ran,,,, Ran,,,,, bangun udah mateng nich,,, ayuk sarapan

Saya pun bangun dan keluar dari dalam tenda menuju ke tendanya Putri sambil membawa piring dan sendok

“wah enak nich kelihatannya”

“jangan Cuma dilihat ayo di makan biar tau enak apa nggak” sambung Putri

Dan kami berdua pun sarapan bersama, lagi lagi suasana seperti kami berdua adalah pasangan yang sedang berlibur diatas gunung

Tidak banyak kesan yang dilewati untuk hari ini, kami melakukan aktifitas masing masing.

seperti biasa saya memandangi indahnya kota manado dengan background gunung manado tua dan pulau Bunaken sementara Putri sedang turun untuk berbincang bincang dengan teman seperjalanannya pada saat naik semalam

Tak terasa hari sudah sore, saya masih di posisi semula, ditemani dengan kopi dan diselingi dengan aktifitas saya menganyam rotan untuk dijadikan cincin. Saya melihat putri sedang berjalan ke arah saya, saya langsung menyimpan anyaman rotan dan kembali meminum kopi.

“apakah mencari ketenangan adalah alasan utama kamu naik gunung sendirian?” tanya Putri sambil mengatur posisi untuk duduk disamping saya

Saya memandangnya dengan semyum kecil sambil menyodorkan segelas kopi

“sebenarnya saya tidak terlalu suka sendirian, biasanya saya berdua dengan sahabat saya. Namun untuk kali ini sengaja saya sendirian kesini karena besok saya janjian dengan seseorang yang saya temuni tahun lalu di Mata angin ini. Saya dan dia bertemu di sini setahun yang lalu, kebetulan saya sedang membuka tenda di lokasi yang sama persis dengan tenda saya sekarang ini.”

Setahun yang lalu saat saya sedang menunggu matahari terbit, saya dihampiri seorang wanita. Dia duduk disamping saya dan kami tidak banyak bercerita sambil meminum kopi. Sampai namanya saja saya tidak tau, tapi sebelum kami berpisah, dia berjanji akan memberitahukan namanya pada saya setahun kemudian itupun kalau saya ada disini. Dan besok adalah tepat setahun kami janjian

Waktu kamu datang malam itu saya sempat mengira kamu adalah wanita yang janjian dengan saya, tapi ternyata bukan.

“Wah berarti saya mengganggu nich” ledek Putri

“ahhhh ngga juga, wanita itu juga kan bukan siapa siapanya saya. Apa salahnya saya menepati janji yang sudah kita berdua sepakati” saya memberi penjelasan pada Putri

Baca juga : Dirimu

Dan malampun datang,,,,

Kami melakukan aktifitas masing – masing dari memasak, dan merapikan tenda kami kembali karena sepertinya malam ini akan hujan

Dan benar saja beberapa saat setelah kami selesai makan malam, hujan pun turun. Seprtinya malam ini akan terjadi badai menurutku. Karena hujan disertai angin yang kencang menerpa tenda kami, inilah salah satu alasan mengapa banyak orang tidak mau mendirikan tenda di Mata Angin

“prakkkkkk” di luar terdengar suara seperti sesuatu yang patah, saya langsung membuka sedikit pintu tenda saya dan melihat ke luar untuk memastikan tidak terjadi apa-apa, dan saya terkejut karena ternyata bunyi suara yang tadi adalah bunyi stick tenda Putri yang patah. Dan terlihat putri sudah kebasahan karena mencoba memperbaiki tendanya, sementara hujan dan angin semakin kencang. Dengan cepat saya keluar untuk membantu Putri, saya melihat kondisi tenda putri sudah tidak bisa diperbaiki. Langsung saja saya mengambil beberapa barang putri dan menaruhnya di dalam tenda saya. Melihat itu Putri terdiam, saya langsung menggenggam tangan putri dan menarik dia ke dalam tenda sambil berkata “tenda kamu rusaknya cukup parah, besok saja kita benerin sekarang kamu tidur di tenda saya saja, Putri hanya terdiam sambil mengikuti saya.

Bersambung : Alam yang mempertemukan kita [Part 4]

Leave a Reply

%d bloggers like this: