Cerpen : Alam yang mempertemukan kita [Part 4]

Cerpen : Alam yang mempertemukan kita [Part 4]

Kamu sudah sangat basah, masuk saja duluan dan langsung ganti baju kamu biar kamu tidak sakit. Kalau sudah selesai ganti baju baru saya masuk.

Sementara putri mengganti baju, saya menunggunya di luar tenda. Saya tidak terlalu khawatir basah karena saya sudah menggunakan Jaket hujan yang biasa saya pakai kalo naik gunung.

Terlihat pintu tenda mulai terbuka, dan putri memanggil saya masuk.

Saya pun masuk ke dalam tenda dan langsung menyalakan Kompor untuk membuat kopi biar menjadi sedikit penghangat kami malam ini

“minumlah biar tidak terlalu berasa dinginnya” sambil saya menyodorkan segelas kopi padanya

“terima kasih Ran”

“sama-sama” Jawab saya

“malam ini kamu tidur disini saja, nanti besok kita benerin tenda kamu. Tenang saja saya tidak akan memanfaatkan kesempatan ini untuk berbuat sesuatu padamu”

Putri hanya tersenyum sambil meminum kopi yang saya berikan.

Sebelum tidur saya menyerahkan sleeping bag yang saya bawa kepada putri untuk dia gunakan

“Ran makasih yach, dan Selamat tidur” kalimat terakhir yang keluar dari mulut Putri sebelum dia memejamkan matanya

Saya hanya tersenyum dan memejamkan mata saya

“kamu ternyata hobby juga yach menanti matahari terbit” suara Putri mengagetkan saya ketika saya sedang duduk memandang ke arah posisi matahari terbit.

Baca juga : Ketika semuanya harus tergantikan

“biasanya jika malamnya hujan pasti paginya akan cerah dan matahari akan terbit dengan sangat indah” jawab saya kepada putri sambil menggeser duduk saya agar putri duduk di samping saya.

“mau?” saya memberikan segelas kopi kepada Putri

Diambilnya kopi itu dan di genggam dengan kedua tangganya

Keheningan melanda kami berdua, diselingi sesekali terdengar suara kopi di seruput

“Kamu yakin wanita itu akan datang Ran?” tanya putri sambil menatap saya

Saya hanya tersenyum dan berkata

“Kalaupun dia tidak datang hari ini untuk menepati janjinya, saya tetap menjadi orang yang tidak pernah ingkar akan janji saya. sebuah janji memang hanya kata yang terucap dari bibir kita, tapi sampai saat ini belum ada satupun janji yang terucap dari bibir saya yang tidak saya tepati”

“Saya juga berada di sini karena sebuah permintaan, permintaan terakhir dari orang yang telah menjadi bagian dalam diri saya selama ini”. Ucap Putri sambil meneteskan air mata

“Mungkin kita berdua adalah orang yang bodoh, Berada di puncak gunung hanya karena orang lain”. Sambil tertawa kecil dan memberikan syal saya kepada Putri untuk menghapus air matanya.

Matahari sudah lama menunjukkan wajahnya seakan menyadarkan saya bahwa hari sudah hampir tengah hari, namun panasnya matahari tak terasa karena siang ini puncak gunung mahawu begitu berkabut. Bahkan mataharipun enggan menembus kabut ini, saya masih duduk di Mata angin ditemani segelas kopi dan masih menganyam rotan untuk membuat sebuah cincin.

“Apa yang kamu lakukan” suara putri mengagetkan saya dan saya tidak sempat menyembunyikan anyaman rotan yang ada di tangan saya

Sambil berjalan ke arah saya Putri membawa sebuah Kue, sepertinya sebuah kue ulang tahun

Putri langsung duduk disamping saya sambil memperhatikan rotan yang ada di tangan saya dengan penuh tanya

“Mengapa kamu membawa kue” tanya saya kepada Putri untuk mengalihkan pembicaraan

“hari ini adalah hari ulang tahun saya dan teman saya, setahun yang lalu saya dan teman saya datang ke gunung ini untuk merayakan Ulang tahun. Dan ternyata itu adalah perayaan ulang tahun kami berdua yang terakhir. Setelah ini saya akan merayakan ulang tahun dengan kesendirian” putri menjawab kemudian terdiam dan terlihat air mata mengalir di pipinya.

“selamat ulang tahun kalau begitu” sambil saya mengulurkan tangan saya untuk memberikan selamat.

Putri membalas jabatan tangan saya dengan senyuman kecil sambil tangan yang satunya menghapus airmatanya.

“trus apa yang kamu lakukan dengan rotan itu Ran?” putri bertanya pada saya sambil melihat rotan yang ada di tangan saya

Saya terdiam sesaat…..

Saya sedang membuat sebuah cincin dari anyaman rotan, namun tidak akan saya selesaikan cincin ini.

“Mengapa begitu?” Potong Putri

“setahun yang lalu saya memberikan 1 buah cincin kepada wanita itu, dan saya berjanji akan membuat 1 lagi cincin yang sama, dengan catatan dia harus melihat sendiri bagaimana prosesnya pembuaatannya dan menunggunya sampai selesai. Jadi cincin ini akan selesai jika wanita itu datang.”

Sambil meneteskan airmata putri menatap saya dengan penuh tanda tanya, dan sesaat putri membuka kalung yang dia pakai dan memberikannya pada saya.

“dari mana kamu mendapatkan itu?” saya terkejut melihat apa yang putri berikan pada saya.

Sebuah kalung, yang membuat saya kaget adalah di kalung putri tergantung cincin yang saya berikan kepada wanita itu setahun yang lalu.

Baca juga : Malam indah berakhir pilu

“Bagaimana cincin ini ada padamu,? Bukan, kamu bukan wanita itu” saya bertanya dengan penuh kebingungan kepada putri

Sesaat putri terdiam

“6 bulan yang lalu Cindy masuk rumah sakit, saya sangat khawatir dengan keaadaannya. Setiap hari setelah kuliah saya pasti akan menemani Cindy di rumah sakit, namun Cindy tidak mampu bertahan lama. Kanker di hatinya sudah mencapai stadium 4 dan dokter sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi. Sebelum meninggal Cindy sempat memberikan cincin ini kepada saya dengan pesan bahwa hari ini tepat di hari ulang tahun kami, saya harus berada di puncak gunung mahawu dan saya harus mendirikan tenda di Mata Angin”

“Jadi Wanita yang saya tunggu itu adalah teman kamu? Dan namanya Cindy” tanya saya kepada putri

Putri hanya mengangguk dan kembali meneteskan air mata

“Sekarang maukah kamu menyelesaikan pembuatan cincin itu untuk Cindy?, Cindy memang tidak bisa datang tapi saya yakin dia melihat bagaimana kamu menyelesaikan pembuatan pasangan dari cincin itu.” Pinta putri sambil masih meneteskan airmata

Saya terdiam seakan tidak percaya akan apa yang saya alami.

Dengan mata yang mulai berkaca kaca saya menyelesaikan cincin yang saya buat tadi

Kami berdua terdiam tanpa mengeluarkan satu katapun sampai saya selesai membuat cincin itu dan menyerahkannya pada Putri, dan kembali kami terdiam

“Put…..” saya memanggil

Putri menatap saya dengan tatapan kosong

Saya langsung memeluk putri sambil berbisik di telinganya “maukah kamu memakai cincin ini?”

Putri hanya mengangguk tanda mengiyakan permintaan saya.

“Terima kasih karena kamu sudah datang menggantikan Cindy, sehingga tidak ada janji yang tidak ditepati”

TAMAT

Leave a Reply

%d bloggers like this: