Cerpen : Alam yang mempertemukan kita [Part 1]

Cerpen : Alam yang mempertemukan kita [Part 1]

Saya adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta yang ada di manado, perkenalkan nama saya Randi. saya memiliki hoby yaitu naik Gunung, dan semua kegiatan yang dilakukan di alam.

Semua cerita ini berawal pada saat saya mau merencanakan untuk naik gunung,

Bulan ini sangat tepat waktunya karena hari jumat kampus kami libur sehingga saya berencana mau naik gunung hari kamis selesai pulang kampus.

Hari rabu setelah usai mata kuliah saya memutuskan berbelanja logistik untuk kebutuhan pendakian, saya berbelanja di salah satu supermarket dekat dengan kampus saya. kebetulan kampus saya berada di pusat kota

Sedang asik berbelanja saya melihat seorang wanita, jika dilihat dari gayanya dia juga adalah seorang pendaki. dan dia juga sedang berbelanja, terlihat dari belanjaan logistiknya hampir mirip dengan apa yang saya belanjakan hanya ada beberapa item yang berbeda.

Sambil terus berbelanja saya tidak terlalu menghiraukan perempuan itu. setelah semuanya terbeli saatnya saya menuju ke kasir untuk melakukan pembayaran.

Diasaat bersamaan saya berebutan antrian dengan seseorang, setelah diperhatikan ternyata dia adalah wanita yang saya lihat tadi. kami saling memandangi satu dengan yang lain. Sambil memberikan isyarat padanya saya berkata ” ladies first”, dia hanya tersenyum kecil sambil menuju ke arah kasir.

hari kamis saya hanya mendapat jadwal 1 mata kuliah dan itupun jam 9 pagi.

Baca juga : Beri aku tanda

“mungkin ku tak akan bisa jadikan dirimu, kekasih yang seutuhnya mencinta” suara nada panggilan handphone saya, saya lihat tertulis Dani memanggil.

langsung saya angkat…..

“halo….kenapa Dan?”

“Dosen ngga masuk Ran”…

“ahhhh yang benar Dan”? (tanyaku memastikan)

“ia bener, tadi diumumkan sama staf kampus”….

“ya udah makasih infonya Dan,,,,”

“ehhhhh Lu main makasih aja Ran….. kemana kita planing nich… mumpung ngga ada Dosen”…

“waduh Dan saya ngga mau kemana-mana…. males saya jalan. lagi pengen diam di rumah aja”

“ahhhhh payah lu Ran,,, tut… tut… tut…” (Dani memutuskan pembicaraan)

Pukul 13.00 saya sudah selesai packing perbekalan dan peralatan saya ke dalam ransel, dan ransel sudah terikat rapi diatas motor. saya memang tidak seperti pendaki lainnya. saya lebih suka naik gunung menggunakan motor kesayangan saya, walaupun nantinya motor itu akan dititipkan di desa terakhir sebelum saya melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.

Setelah memastikan tidak ada lagi yang terlupakan untuk di packing, 1 jam kemudian saya memutuskan untuk melakukan perjalanan memuju lokasi desa terkahir yang paling dekat dengan gunung yang akan saya daki. 1 jam lebih 30 menit saya diatas motor kesayangan saya kemudian saya tiba di desa terakhir dimana saya akan mencari lokasi rumah warga untuk menitipkan motor saya. biasanya tempat yang paling ideal jika saya mau menitipkan motor saya adalah rumah warga yang memiliki warung.

Saya berbelanja beberapa kebutuhan pribadi di warung tersebut kemudian meminta ijin untuk menitipkan motor saya. setelah menitipkan motor tibalah saya untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju puncak gunung, yang akan menjadi base camp malam ini. waktu menunjukkan pukul 16.00 saya sudah memulai perjalanan seorang diri. dengan perkiraan perjalanan memakan waktu 2 jam untuk sampai di puncak, saya berencana akan tiba di lokasi basecamp pukul 6 sore.

Walaupun seorang diri, saya begitu bersemangat untuk mendaki. karena besok malam adalah purnama penuh, dan dari puncak gunung saya bisa melihat kerlap kerlip lampu kota saya tinggal.

Baca juga : Tentang suatu malam

Akhirnya dengan penuh perjuangan dan keringat yang membasahi hampir seluruh pakaian saya, saya tiba di puncak gunung. targetan saya memang ke puncak gunung karena di puncak gunung ada lokasi untuk camping ground yang kira kira hanya menampung 2 tenda. jadi sengaja saya datang lebih cepat agar saya bisa camp di puncak gunung, walaupun memang dari segi keselamatan pendakian tidak disarankan untuk membuka tenda di puncak gunung.

Sebelum mendirikan tenda saya bersantai sejenak ditemani segelas kopi sambil melihat matahari yang perlahan tengelam di garis horisontal laut. setelah selesai minum kopi dan matahari telah menghilang, saya mendirikan tenda. tidak butuh waktu lama bagi saya untuk mendirikan tenda, karena tenda saya yang berukuran kecil yang cukup hanya untuk 2 orang.

Malam ini saya hanya ditemani oleh bulan yang hampir purnama dan beberapa bunyi suara binatang malam yang bergantian terdengar bagaikan sedang memainkan musik, sambil memandang ke arah kota tempat tinggal saya.

Entah sudah berapa gelas kopi yang habis untuk menemani saya dimalam yang dingin ini, hingga tanpa terasa perut udah mulai keroncongan. saat saya memutuskan untuk kembali ke dalam tenda, saya melihat ada beberapa rombongan yang berjalan menuju ke arah saya, terlihat dari cahaya senter yang menembus celah dedaunan. memang lokasi tempat saya mendirikan tenda merupakan lokasi tertinggi di kawah puncak gunung ini atau biasa kami menyebutnya “mata angin”. sambil memperhatikan cahaya senter itu makin mendekat, kira-kira 100 meret lagi terdengar sebuah percakapan mereka

“kamu yakin mau ngecamp di mata angin? disini saja bersama kita!” suara seorang wanita bertanya

“ngga apa apa saya di puncak aja, saya mau lihat lokasi dulu. kalo masih ada lokasi buat camp saya akan camp di puncak” jawab seorang wanita juga

wah ada cewe yang mau ke puncak “ucapku dalam hati”

saya langsung mengatur kembali kompor dan peralatan untuk membuat kopi yang telah saya bereskan tadi, hitung hitung untuk menyambut cewe ini dengan segelas kopi.

Perlahan tapi pasti satu buah cahaya mulai mendekati saya yang sedang duduk di “mata angin” hingga terdengar suara seorang wanita menyapa saya.

“malam”

“malam juga” saya menjawab dengan melemparkan senyuman kecil, walaupun mungkin tidak terlihat karena sudah malam

“wah sudah ada yang duluan, saya terlambat” ungkap wanita itu lagi sambil senternya mengarah ke tenda saya

Baca juga : Tiga hari

“itu tenda kamu?” tanya wanita itu

“ia itu tenda saya” jawab saya singkat

“tapi masih bisa kok untuk 1 tenda lagi, tapi harus tenda yang kecil sama seperti punya saya” sambung saya

“mohon maaf saya sungguh tidak sopan, mari silahkan duduk dulu.

“minum kopi dulu, sambil menyodorkan kopi kearahnya.”

“baru kamu pikirkan apakah mau tetap buka tenda disini atau mau turun lagi”

“terima kasih”, dia langsung mengambil kopi yang saya berikan dan mengatur tempat duduk berhadapan dengan saya

Bersambung : Alam yang mempertemukan kita [Part 2]

Leave a Reply

%d bloggers like this: